Subscribe to Our Newsletter ! Free and No SPAM !

Kerinduan Untuk Perjanjian Yang Gagal

logoblog
Aku tidak tahu mengapa ini selalu terjadi. Disetiap aku ingin membuatmu bahagia selalu ada kesedihan yang ikut bersamanya. Berjalan berdampingan tidak dapat terpisah dari sebuah aturan yang telah ditentukan untuknya.

Ketika aku tertawa denganmu sesaat setelah itu kau akan sedih. Aku tidak ingin seperti itu, bukan kehendakku. Ada janji, permintaan yang selalu kuusahakan untukmu namun aku tidak tahu akan ini semua nyata.

Dengan waktu yang masih jauh itu, selalu wajah itu murung. Aku hanya ingin membuatmu tersenyum. Aku tidak memarahimu karena penampilanmu melainkan apa yang kau katakan tidak sesuai apa yang kau perbuat.

Kau yang memohon untuk mata ini saling tatapan, namun kau yang menyembunyikan dirimu disaat mata ini selalu berputar mencari sosokmu. Aku juga ingin, bukan hanya kau. Tapi maafkan aku, nasehat untuk kita.

Aku tidak ingin kau berbeda dengan penampilanmu cukuplah dengan kesederhanaan yang kau miliki dari dulu saat pertama kali aku melihat dengan muka cuekmu. Wajah cuek itu kini memiliki makna tersendiri untukku.

Kerinduan yang selalu menggebu dalam hati, selalu berpesan untuk kembali merindukan Sang Pemilik untuk sebuah cinta yang dinantikan. Walau mulut berbusa untuk sebuah ungkapan ketidak sabaran. Akad yang selalu didambakan, membuka ijab yang selalu membatasi, ingin bersama, akan terasa tersiksa jika hati ini tidak menenangkannya bersama Sang Pencipta.

Aku merindukanmu, begitu pun denganmu. Aku tidak bisa menolaknya namun aku tidak ingin bersamamu, aku hanya ingin melihatmu. Tersenyum seperti hari sebelumnya saat aku masih duduk di depanmu. Yah, Kerinduan ini menyiksa dengan tenangnya.
---

Maafkan aku jika aku menyakiti hatimu lagi, aku tidak bermaksud, aku hanya ingin mendapatkannya darimu saja. Aku salah, kau pantas menghinaku seperti itu, mendapatkan kelupaan itu, mendapatkan penyakit itu. Aku pantas karena aku salah.

Aku meninggalkanmu dalam tidurku. Dan tidak sekali-kalimengabarimu saat aku terbangun. Aku tidak bisa menahan godaan namun aku sadar bahwa aku telah gagal lagi dan lagi.

Melihatmu aku tidak memperdulikanmu karena aku malu untuk menghadapmu, aku telah gagal untuk sebuah janji yang kuberikan. Aku tidak ingin membuatmu sedih namun selalu dan selalu hal ini terjadi.

Aku tidak tahu, apa yang harus saya lakukan, aku tidak ingin membuatmu sedih. Aku telah gagal dan aku pantas untuk sendiri. Melihat kembali langit dengan tatapan kosong, kembali merasakan kejenuhan, kembali untuk jalan sendiri dengan langkah yang tidak tentu arah.

Walau begitu, aku tidak bisa.
Selalu ada hati yang tidak rela untuk kesendirian. Disaat kesendirian, kau kembali untuk meluluhkan hati ini untuk selalu kembali bersama dan menjaga Perintah-Nya serta selalu berharap bahwa aku akan seperti beliau.

Perhatian itu yang membuatku kembali meneteskan air mata untuk sebuah cerita bahwa aku telah gagal. Namun semuanya itu tidak bisa kulakukan, pembiasaan yang sulit untuk kulakukan. Untuk berpura-pura menjauh darimu. Ini bukanlah yang terbaik.

Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini