Malam itu kau tidak mendengar sama sekali perkataanku untuk menjaga dirimu. Kau adalah orang pertama, wanita yang kucintai, kujaga dan kuperhatikan. Aku tidak ingin melihat mata yang liar akan dunia fana. Malam itu, kabar yang kau berikan hilang bersama dengan pria lain.
Kegelisahan menggelitik hidung ini, hawa panas yang dari hembusan nafas dengan keadaan sakit membuat semuanya kacau. Angin yang begitu kencang mengeringkan seketika rupa yang basah ini.
Rupa ini tidak dapat kulukiskan, tanpa kau lihat rupa ini. Kau akan tahu bagaimana rupa dari kabar yang hilang bersama kekecewaan saat melihat kasur papan yang dipenuhi kekecewaan.
Aku tidak pernah berkata bahwa aku berpesta, selama perasaan ini ada. Saksi tidak akan melupakan apa yang telah kau lakukan saat pertama kali kau meninggalkanku dengan senyuman.
Papan ini empuk, karena kekecewaan hilangnya kabarmu dengan seorang pria. Kau tidak mengerti bahwa ada seseorang yang menunggumu disini. Menunggu kau datang dari tugasmu yang jauh disana.
Aku tidak tahu sama sekali apa yang kau lakukan disana. Aku hanya mendapat kabarmu bersama seorang pria. Aku tidak dapat melakukan apapun karena aku tidak tahu apa yang kau lakukan sebenarnya disana. Kekhawatiran ini kau pastinya tahu.
Aku hanya bisa percaya pada hal yang tidak nyata. Untuk menunggu kepulanganmu, aku masih tetap disini, dengan kenyataan yang akan nyata nantinya. Sebuah kata untuk memaniskan, kepercayaan untuk menciptakan, dan usaha untuk menjalaninya. Inilah aku, dengan kabarmu yang hilang bersama kasur kekecewaanku.
Kau tertawa memberiku kabar, bahwa itu semua adalah salah paham. Kau membuatku khawatir. Kau disana yang jauh tanpa penjagaan dariku. Lalu kau mengejek itu semua. Terima kasih.
Aku selalu menemanimu disini, karena aku masih percaya dengan hal yang tidak nyata ini. Aku merindukanmu karena aku merasakannya dan kau pun juga begitu merindukan diriku yang selalu membuatmu tidak nyaman.
0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini