Aku selalu terlena dengan senyuman itu, walau hanya untuk menyapa namun ada kenikmatan lebih yang akan nantinya kudapatkan. Memang itu benar, senyuman itu menggodaku untuk menikmati indahnya paras dan tubuhmu. Aku terlena bukan untuk menengadah kelangit melainkan menengadah kedepan.
Aku sadar akan semua itu bagaimana akibatnya kelak, namun kesadaran itu belum cukup untuk menenangkan diriku yang tergoda akan senyuman itu. Aku benci, bukan. Aku malah menikmati hal tersebut. Senyuman itu memang sedang menggodaku setiap kali aku melihatnya.
Lucu juga, duduk sendiri menikmati kesendirian dalam pelukan malam dengan mulut yang berasap-asap seperti cerobong asap. Mengingat hal seperti itu memang memalukan. Aku sadar. sangat memalukan. Jika aku punya waktu, maka akan kuubah waktu itu dengan yang semestinya.
Namun itu hanya andaian yang mustahil akan terjadi bagiku. Dari hal itulah aku tahu ini dan itu yang akan menjadi pembelajaran yang diusahakan untuk mewujudkannya setelah senyuman itu berjanji padaku kelak.
Sebuah lelucon yang bodoh. Mau bagaimana lagi, senyuman itu juga menikmatinya. Seiring dengan berjalannya waktu, kau akan terus mendapat kebohonganku sebelum kau dan aku menjadi kita yang telah berjanji.
Gombal, katamu! Tunggu, akan kubuktikan padamu, senyuman yang menjelma sebagai syaitan kau akan menjadi milikku. Lucu hanya omong kosong belaka yang sering kau dengarkan kupikir itu hal baru ternyata sudah sering kau dengarkan. Aku tidak tahu, ini hanya ucapan belaka namun akan kubuktikan padamu bahwa omong kosong ini akan membuatmu tersenyum bahagia sambil menunduk dihadapanku.
0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini