
Jauh di pelupuk mata kau terlintas dalam pandanganku, seolah-olah itu kau yang pernah membutakanku dalam menapa hidup. Usiaku masih telalu muda dalam berjalan berdampingan dengan kata cinta. Masih tahun pertama SMA. Aku sadar akan hal itu, namun rasa penasaranku membuatku berdetak kencang ingin tahu bagaimana cinta itu.
Yah, sebuah cinta atau hanya cinta aku tidak tahu, ini apa? Namun saat itu, kau menarik perhatian mataku disaat aku sedang menikmati kesendirianku bersama sebatang class mild. Kau mematikan rokok yang kuhisap, bukan akulah yang mematikan rokok itu. Kemudian memperhatikanmu hingga kau hilang dari pandanganku.
Itu hanya cerita lama yang masih tersimpan rapi dalam arsipku, Aku tidak mungkin membuang tulisan itu begitu saja. Kau adalah cinta itu yang pertama kudapatkan. Namun saat aku melihatmu kembali, kau lagi bukan dia yang dulu.
Kau adalah kau bukan dia, mau bagaimana lagi aku mengakhirinya dengan memberikanmu kesedihan yang pastinya tidak akan kau lupakan. Aku masih ingat akan hal itu, air mata itu jatuh berderai membasahi pipi meronamu.
Aku dan kau telah berbeda dari zaman itu dan zaman sekarang. Kau hanya wanita yang indah bersamaku dalam tulisanku. Karena aku tahu, akau pernah berjanji denganmu untuk berada di dekatmu namun aku yang mengingkarinya. Maka dari itu setidaknya aku menepatinya dalam tulisanku agar kau kelak dapat membacanya bersama orang terkasihmu dan kubuktikan bahwa aku telah menepati janji itu.
Pola pikirkulah yang memisahkan kita dalam tatapan berseri-seri. Persetan dengan hal itu. Aku punya jalan untuk menapa hidupku yang telah hancur makanya aku mengambil resiko untuk terjun ke neraka membela diri dan memperbaiki diri yang telah rusak.
Namun, hingga sekarang mengenal cinta di tahun pertama SMA. Aku masih tidak tahu cinta itu seperti apa? Hawa nafsu, senyuman syaitan, kenikmatan bibir wanita atau tubuh wanita. Aku tidak tahu cinta itu seperti apa? Setiap kali aku terjerumus dengan cinta itu, kenikmatan dari senyuman syaitan menggodaku, memberikan hawa nafsu dan menikmati bibir dan tubuh wanita.
Itulah kenapa kau berbeda sekarang, kau tidak ingin aku mengenalmu lagi. Itulah alasanku kenapa aku terjun kesebuah neraka untuk membakar diriku dalam fana wanita.
Entah kenapa aku setiap memikirkan hal tersebut, selalu terbesit ingin merasakan cinta yang sebenarnya. Bukan senyuman syaitan itu dan sebagainya. Namun sesuatu yang membantuku untuk kembali kejalan yang ingin kulewati. Aku tidak tahu apakah aku pernah kembali kejalan itu atau tidak namun aku ingin melewati jalan itu.
Zaman telah merubah semua cerita yang ada. Zaman telah merubah kau dan aku. Zaman telah memberikan jawaban dari apa kau dan aku. Hingga tidak ada lagi kau atau aku yang dulu. Namun itu tidak mudah dan jawabannya ada pada pola pikir dan hati nurani.
Kau adalah kau yang bukan lagi dia di zaman ini, walau kau berbeda jangan kau yang dulu dengan dia sama. Sebuah fana wanita, fana yang abadi yang tiada habisnya selama wanita masih terlahir sebagai wanita.
0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini