Subscribe to Our Newsletter ! Free and No SPAM !

Pengantar Sebelum Membaca Al-Quran

logoblog
Aku tidak tahu untuk menuliskan apa dalam hal ini, namun yang dipikiranku adalah kembali menjadi seorang penghafal Al-Quran lagi, setelah semuanya di lupakan. Ini adalah pengantar sebelum menjadi seorang penghafal Al-Quran. Mengabadikan kisah dalam tulisan bukanlah hal yang burukkan?
Senyuman itu indah, walau itu palsu. Terlahir dari keluarga yang bercukupan membuatku harus berpikir. Aku akan jadi apa nantinya? Apakah akan bercukupan juga atau akan kekurangan. Karena masih terlalu jauh untuk memikirkan hal seperti itu, Aku hanya ingin berbeda dari mereka. Ingin bersekolah di Pondok Pesantren.

Banyak hal baru yang kudapatkan ketika bersekolah di pondok pesantren. Ada pelajaran yang belum pernah kudapatkan ketika di bangku umum. Bahasa Arab, Sharaf, Nahwu, Barazanji, dan masih banyak lagi. Hingga akhirnya, pemikiranku yang dulunya bercukupan atau kekurangan kini bukan lagi menjadi fokusku untuk masa depan.


Aku ingin seperti para penghafal Al-Quran, aku ingin seperti para ulama yang berilmu dan aku ingin seperti mereka dengan caraku sendiri. Namun itu ditolak demi nama baru nantinya.


Punya tekanan itu tidak enak, terkurung untuk menentukan apa yang di inginkan itu "Kacau" Selalu ada yang tidak suka dan suka. Seperti seorang wanita yang tidak dapat menentukan jodohnya sendiri. Dulu itu adalah hal yang sangat menyenangkan, belum merasakan tekanan sebagai seorang kakak. Masih dalam lingkup perkelahian saudara. Setelah berkelahi dapat lagi hadiah dari mereka, seperti rotan, bambu, ikat pinggang, kabel. Itu masa kanak-kanakku.


Begitu juga dengan belajar mengaji, sering dikejar kayu untuk pergi mengaji kemudian belok ke rental PS. Mengajinya nanti saja. Namun pulangnya dapat hanger baju lagi.😒Masa kanak-kanakku kerenkan?😆Walau begitu, aku merasakannya setelah menginjakkan kaki di tahun pertama SMA. Apa yang pernah mereka lakukan dulu suatu keberkahan bagi anak-anaknya.


Sekarang bukan lagi masa kanak-kanak, sekarang akulah yang menentukan jalan hidupku sendiri. Karena aku lulusan pesantren satu tahun membuatku berpikir berbeda dari mereka hingga terjadi cekcok hanya karena masa dulu dan masa sekarang. Namun tidak ada yang dapat kulakukan, sebagai anak durhaka pastinya tidak ingin kembali lagi ke masa itu. Tapi terkadang situasi yang kurang di mengerti yang membuatnya harus kembali.


Cambukan, pukulan dan teriakan menjadi makananku saat kecil, mengaji dan bermain menjadi kebosananku. Namun, aku ingin bebas dari tekanan mereka. Kini 3 Maret 2017. Aku tidak ingin seperti dulu lagi, menjadi anak yang membenci orang tuanya, anak yang membenci aturan islam dan anak yang membenci Tuhan-Nya. Aku tidak ingin seperti itu lagi. Biarkan aku bebas dengan masa depanku, bercukupan atau kekurangan itulah masa depanku. Aku tidak ingin pikiranku tertekan. Aku ingin bebas dengan hal itu dengan tetap dalam lingkaran islam.

Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini