
Aku berjalan melewati hujan tidak tentu arah mencoba untuk melupakan rasa sakit yang bersemayam dalam tubuh yang tidak memberikan manfaat sama sekali, mencoba untuk mengabaikan rasa sakit ini namun aku dibuat untuk terus memperhatikannya.
Hujan yang turun membasahiku tak dapat membersihkan, menghilangkan rasa sakit yang bersemayam, tak seperti air menghilangkan debu-debu tanpa sisa. Berjalan dan berlari di bawah hujan berharap ada setitik hujan yang dapat mengobati rasa sakit ini. Walau air mata deras turun di bawahnya tak ada setitik hujan yang mengasihaniku. Mencoba berteduh, memeluk dingin menahan air mata jatuh. Air mata tetaplah jatuh.
Aku ingin. Cuma ingin merasakan dirimu yang dulu sebelum inginku berubah. Membuang semua kenangan tentangmu. Meninggalkan seraut wajah yang sering muncul dalam perihku, wajah yang tak bersalah seakan janji yang kau titipkan padaku itu hanyalah rayuan syaitan. Sebelum aku membuang ludah di hadapanmu. Walau matamu tidak melihatku, walau telingamu tidak ingin mendengarkanku, walau tubuhmu sudah menolak namun hatimu masih bisa membacanya.
Kenapa?
Kau mengkhianati janjimu sendiri, begitu murahnya dirimu membuang. Mempermainkan janji yang kau umbar lalu kau pergi tanpa ada rasa bersalah sedikitpun di hatimu. Ludah itu untukmu bersama kenangan palsu yang kau berikan.
Aku masih berteduh menunggu hujan redah memeluk dingin membuatku memutih pucat dengan hidung merah yang tak kuasa akan tangisan. Aku disini masih berteduh hingga akhirnya mataku tertuju pada daun yang jatuh didepanku, tempatku berteduh.
Terbawa aliran air hujan hingga aku tidak dapat membedakannya lagi, lalu kumenengadah keatas melihat pucuk daun yang berusaha tumbuh dibawah hujan dan terpaan angin kencang yang memeluk dingin. Aku tersadar dan kembali berjalan demi janji dan alasanku untuk bersamamu dulu.
0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini