Matahari hanya menyisahkan garis jingga kemerahan, semilir angin membawa pesan tentangmu. Aku kesepian dalam tempurung ini, melihat langit berharap ada kau dibelakangku dan berkata aku telah kembali. Namun itu mustahil buat kita. Sekali lagi aku merindukanmu.
Al-Qur'an yang kugenggam, membawaku berpikir bahwa ada Allah bersamaku, walau begitu, sekuat apapun aku, air mataku lebih kuat dariku. Yah, aku kembali mengingat kata itu darimu. Sambil menenangkan diriku kau mengejekku hingga aku kembali mengejekmu namun kaulah yang kalah duluan padahal kaulah yang memulainya. Merasa bersalah tapi lucu, karena kau yang memulai dan kau lebih dulu cengeng. Masih tersimpan jelas dalam ingatanku. Kau begitu manja untukku. Aku merindukanmu.
Kesepian ini berbisik padaku, kenapa tidak kau mencintai lagi? Entah, aku telah berjanji untuk tidak mengingkari ini semua. Jawabku. Bagiku kau adalah pelita yang menemukanku di gelapnya hidup dimana ada cahaya lampu yang bersinar terang. Namun kau dengan pelita menemukanku dalam gelapnya hidup.
Aku tidak tahu apa yang kau lakukan. Namun aku percaya padamu. Mendapat kabar darimu itu sudah cukup dan bahkan sudah bisa membuatku tersenyum bahagia. Mengobati rasa rindu dalam kesepian ini.
Kau ketenanganku, membuatku luluh untuk mengatakan cinta lagi.
Entah sudah berapa kali aku berkata aku merindukanmu. Mungkin kau akan bosan namun itulah yang kurasakan. Aku merindukanmu.
Disetiap jarak kau selalu mengingatkanku untuk menjaga hati cinta ini untuk berusaha jadi lebih baik, ikhlas karena-Nya. Walau begitu entah kenapa aku penasaran dengan dia yang kau sembunyikan dariku. Aku tidak tahu harus bagaimana namun inilah yang bisak kulakukan dengan penasaran ini untuk mengintrogasimu. Maafkan aku yang terlalu penasaran denganya.
Aku tidak pernah memberitahukan kepada siapapun, mulut itulah yang memberitahukan semuanya dan respon mereka membuatku berpikir Habis sudah... Marah dan kecewa lagi. Aku tidak ingin memberitahukanmu namun aku harus jujur karena telah berjanji padamu. Dan tanggapanmu sama halnya dengan yang aku pikirkan. Kau tidak ingin lagi bersamaku, takut jika terumbar. Namun ketika aku bertanya Apakah kau malu dengan ini semua? Kau berkata Tidak, namun aku hanya takut saja. Disaat itu aku terdiam dan entah harus kujawab bagaimana lagi. Aku merasa seperti benalu yang mengganggu namun aku tidak bisa lepas darimu.
Entah sudah berapa kali aku berkata aku merindukanmu. Mungkin kau akan bosan namun itulah yang kurasakan. Aku merindukanmu.
Disetiap jarak kau selalu mengingatkanku untuk menjaga hati cinta ini untuk berusaha jadi lebih baik, ikhlas karena-Nya. Walau begitu entah kenapa aku penasaran dengan dia yang kau sembunyikan dariku. Aku tidak tahu harus bagaimana namun inilah yang bisak kulakukan dengan penasaran ini untuk mengintrogasimu. Maafkan aku yang terlalu penasaran denganya.
Aku tidak pernah memberitahukan kepada siapapun, mulut itulah yang memberitahukan semuanya dan respon mereka membuatku berpikir Habis sudah... Marah dan kecewa lagi. Aku tidak ingin memberitahukanmu namun aku harus jujur karena telah berjanji padamu. Dan tanggapanmu sama halnya dengan yang aku pikirkan. Kau tidak ingin lagi bersamaku, takut jika terumbar. Namun ketika aku bertanya Apakah kau malu dengan ini semua? Kau berkata Tidak, namun aku hanya takut saja. Disaat itu aku terdiam dan entah harus kujawab bagaimana lagi. Aku merasa seperti benalu yang mengganggu namun aku tidak bisa lepas darimu.
0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini