14 Maret 2016, hari terakhir bersama mereka di rantauan. Menuntut ilmu agama bukan banyak atau sedikitnya melainkan berkah dari ilmu itu. Belajar membaca dan menulis kitab kuning atau kitab tanpa kharakat, orang Bugis bilang kitta' gondolo. Dari awal menginjakkan kaki di Pambusuang ini ada perasaan tidak ingin kembali ke kampung halaman, Banyuwangi. Namun hari dimana saya dan mereka akan berpisah tidak bisa dibantahkan lagi. Ada tuntutan orang tua yang harus saya jalankan, kuliah. Kalau bukan karena orang tua, saya akan tinggal lama di Pambusuang ini, Polewali Mandar. Sudah direncanakan jauh sebelumnya, saat orang tua bertanya bagaimana pendaftaran kuliah. Maka dari itu saya dan mereka membuat agenda mendaki gunung sebelum saya meninggalkan mereka duluan.
Seolah-olah terlihat bahagia. Ada canda dan tawa yang hadir bersamaan dengan itu kebersamaan dan keras kepala pun juga hadir, tidak apalah setidaknya ini hari terakhir saya bersama mereka dan saya harus menikmatinya seperti hari sebelumnya.
"Malam yang dingin membeku kuayunkan langkah kakiku menyusuri hamparan hijau mencari kayu bakar" sedikit-dikit mengubah lirik lagu dari Tommy J Pisa. Ampun betul ini malam, dinginnya seperti memeluk saya, walau ini yang ketiga kalinya tapi tetap tak ada yang berbeda. Mulai dari mendakinya hingga malamnya.
Aku senang mereka merencanakan hal ini biasanya saya yang paling malas ada acara perpisahan seperti ini, seolah tak ada yang tahu tentang saya namun mereka merencanakan hal ini mencoba mengumpulkan asrama tiga menyempatkan ikut mendaki. Mereka semua stres dengan gaya mereka.
Pertama Niswar, Saya memanggilnya Usman. Dia yang mengajar saya saat hari pertama di Pambusuang. Dia yang paling sering suasana hatinya berubah-ubah. Lalu ada Fajri, Saya memanggilnya Penne. Dia pendatang baru. Lalu Aan saya memanggilnya Sombong sama dengan Fajri pendatang baru juga. Lalu syukri, saya memanggilnya Anangguru. Dia selalu tiba-tiba datang dan beri salam kemudian menyampaikan hadits dan ayat yang baru dia pelajari. Lalu Syauki, saya memanggilnya cokki. Dia yang mengajar saya soal Pambusuang. Lalu Mukhlis, saya memanggilnya Walli. Karena dia dipanggil begitu dengan Puang Zaid. Lalu Ilham, saya memanggilnya Jerapa. Karena dia dipanggil begitu sama pacarnya. Lalu Ikhsan, saya memanggilnya Awo. Karena orang-orang memanggilnya juga begitu. Lalu Arding, saya memanggilnya drakula karena bagian depan giginya cippe berbentuk segitiga. Lalu ada Halim, saya memanggilnya Ling karena pertama kali kenal denganya namanya yang paling sering terlupakan, dia juga seorang hafidz Qur'an. Lalu Salamattang, saya memanggilanya Mattang. Lalu Anwar saya memanggilnya Ibang. Lalu ada Nauval saya selalu memanggilnya Kuttu. Lalu ada Ade, saya memanggilnya Pungke (Pujangga Kecil). Lalu ada Akil dan masih banyak lagi yang lain yang tidak bisa saya tuliskan.
Terima kasih kepada mereka yang sempat mendaki bersama walau saya yang duluan capek, walau saya yang paling banyak berhentinya, saya berterima kasih banyak dengan mereka semua. Entah kapan lagi saya bisa kesini belajar menuntut ilmu yang tiada habisnya. Suatu kebanggaan saya bisa menuntut ilmu di Pambusuang. Terima kasih banyak. Sampai mereka harus rela menunggu bus berjam-jam dipinggir jalan depan masjid Husain.
Potret terakhir bersama mereka.





0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini