Sebelum semua ini terjadi. Ada suara ketukan dalam dada, bidadari surga yang menjanjikan kebahagiaan. Suatu yang sangat indah, hingga sulit untuk memikirkan keindahan itu, garam pun manis jika dapat. Itu dulu sebelum ini terjadi, sungai duka yang terus mengalir membanjiri sandaran sang pemimpi.
Inilah cinta yang berakhir dengan pengkhianatan. Menguatkan hati dan rasa, menjadi debu sisa pandangan mata. Mewarnai hari dan dunia dengan satu warna.
Kau bilang itu indah dan itu manis. Janji yang kau berikan, ludahku lebih terasa ketimbang janji yang kau berikan.
Cinta itu bukan permainan namun keikhlasan. Hingga akhirnya aku mengerti, mengubah kisahku dengan tanganku. Aku tidak membenci karena kau berada pada imajinasiku. Kau bukan satu-satunya namun kau satu dari sekian banyaknya kata yang pernah kutuliskan.
Perpaduan warna dengan balutan perasaan akan membuatnya romantis, namun seromantis yang kau berikan itu tidak akan mampu menelan kata pahit ini. Kau hanya merasakan tidak menelannya. Terbukti dari mata itu, tidak berbohong karena air mata indah yang dihasilkannya memberikan luka yang tidak akan kembali, layaknya air mata yang tidak dapat kembali ketempatnya.
Aku menulis sebuah kisah tentangmu, walau kisah ini hanya dipahami oleh air mata. Lalu bagaimana seharusnya aku? Kau hanya wanita yang kuciptakan dalam imajinasiku mewakili perasaan yang kurasakan saat ini.
0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini