Ini jalan yang kupilih, untuk kembali mencerahkan hati yang penuh dosa ini. Mataku sadar akan apa yang ia lihat. Mulutku tahu akan apa yang ia ucapkan. Hidungku memilih akan apa yang ia hirup. Telingaku menyaring akan apa yang ia dengar. Tangan, kaki dan tubuhku berprilaku akan apa yang ia lakukan. Pikiranku yang menyetir mereka semua namun hatiku si penunjuk arahku tak bisa memberi kepastian untuk menuntut mereka semua. Ia diam menunggu kesadaran mereka masing-masing.
Maka dari itu, aku lebih memilih kembali mencerahkan hatiku dan berusaha melepaskan senyuman itu dari diriku. Aku tahu bahwa ini sulit namun inilah kenyataan yang harus kuterima untuk menghadapi kenyataan hidupku kedepan.
Sebuah buku diary berwarna jingga, Ia berikan sambil berpesan. "Jaga kesehatan, jangan suka tidur, belajar yang baik disana, tetap dengan dirinya yang sederhana, tawadhu dan tulis di buku ini cerita hidupmu jika sudah penuh dengan tulisan, kembalikan kepada saya lagi agar supaya saya dapat membacanya dengan suka cita" sambil meneteskan air mata bahkan berucap pun terengah-engah.
Sambil menahan air mata agar tak jatuh, buku yang ia berikan kugenggam dan berusaha untuk mengembalikannya setelah penuh dengan tulisan. Walau begitu, perasaan yang kumiliki telah kukhianati sendiri pikiranku tak dapat berpikir jernih saat itu. Pikiranku dipenuhi dengan tekanan. Tak tahu berkata apa di depannya, kucoba melangkah menjauh darinya mengeluarkan sepeda motor dari parkiran berusaha tegar walau dalam helm air mata mengalir keras. Dalam hatiku sambil merasakan sakit berkata, merintih kesakitan.
Inilah alasanku untuk memilih setitik cahaya itu untuk mengubah semuanya menjadi lebih baik. Ini memang keterlaluan namun jalan yang kutempuh inilah yang akan menjadi alasanku untuk kembali nantinya. Walau nantinya kau tidak akan sama lagi, Biarlah! Setidaknya ada orang yang berbeda yang mirip denganmu nantinya.
0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini