Dulu aku pernah tersenyum bersama dia, yah! nama yang sering aku pikirkan hingga menjadi sebuah buku dalam imajinasiku yang kelak akan kau baca di kemudian hari. Aku berpikir untuk menulisnya dalam sebuah buku nyata namun keabadiannya akan tercoreng.
Hingga akhirnya akupun bermalas-malasan dan meninggalkan nama itu, memilih untuk mengabadikannya dalam imajinasiku. Aku masih sangat mengingat dengan jelas ungkapan ini.
Ilmu itu adalah keluasan dan Imajinasi itu adalah ketinggian.
Entah apa makna dari kata itu, kata itu memberikanku ide tentang hal yang belum pernah aku pikirkan sebelumnya "Telunjuk" itulah idenya.
Kata itu memang hal biasa di kehidupan manusia tapi bagiku itu adalah hal yang membuatku berpikir aneh dan menjadikanku orang yang sering berpikir tentang hal yang aneh juga.
"Berpikirlah yang jernih sebelum memberikan telunjukmu" Hingga akhirnya aku membaca buku tentang filsafat, tasawuf dan beberapa buku bacaan keras lainnya. Walau itu karena sebuah kata "Telunjuk"
Walau begitu malas pun menjadi ciri khasku karena "Telunjuk" aku tidak ingin terbebani oleh sebuah tekanan, aku tidak ingin disamakan dengan panci yang bertekanan. Aku ingin melakukan hal yang membuatku senang dengan tentunya berada pada syariat islam. Agamaku.
Iyah. "Telunjuk" itulah yang memperkenalkan namamu dan membuatmu abadi pada imajinasiku. Walau aku masih malas menjadikanmu bacaan untuk orang lain. Akan ada saatnya dimana kau akan membaca buku yang telah tercoreng keabadiannya di imajinasiku kelak. Pada saat aku memberanikan diriku untuk keluar dari zona kemalasan.
0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini