Saya sekarang seorang mahasiswa, setelah menganggur dua tahun. status mahasiswa baru tapi muka tua itu sudah biasa bagiku. Semenjak hari itu dan diarahkan untuk tinggal asrama STAIN Parepare semuanya kembali seperti masa dua tahun yang lalu. Dalam keadaan mondok selama tahun.
Entah apa yang mereka lihat dari diri ini, diarahkan untuk tinggal asrama. Pada hal saya, manusia dengan tingkat kemalasan yang paling tinggi jika sedang tidur.
Hingga akhirnya saya kembali menjadi seorang hafids qur'an lagi. Ada kata lagi. Seorang yang pernah merangkul syaitan akan selalu berkata lagi untuk menjadi lebih baik.
Kurang lebih sebulan saya tinggal di asrama, disaat itulah Syababul Qur'an terbentuk. Duduk bersila di dalam masjid, melantungkan ayat suci Al-Qur'an baik itu mahasiswa baru maupun mahasiswa yang berkarat.
Pukul 19:45 waktu setempat, tidak jauh dari asrama. Para penghafal Qur'an STAIN mengadakan tudang sipulung, membahas program kerja dan menyatukan kembali para penghafal STAIN dengan satu komunitas.
Setiap pendapat yang keluar dari mulut mereka diterima dengan baik. Tidak ada percekcokan yang ada hanya senyuman dan canda tawa yang menghiasi wajah mereka.
Terbentuklah Syababul Qur'an community. Komunitas pemuda-pemudi yang cinta dan pemelihara Al-Quran. Dan untuk sementara, nama besar dari jiwa kami. Syababul Qur'an.
Wajah yang tidak pernah lepas dari wudhu, mulut yang berbusa bersama Al-Qur'an yang akan menjadi daging, terhindarnya dari api neraka. Membuat saya kembali mengerti lagi Ada saat dimana mata yang rabun akan melihat dengan jelas dan memilih jalannya sendiri.
Al-Qur'an adalah janji dari Sang Pencipta.
Al-Qur'an adalah janji dari Sang Pencipta.
0 komentar:
Berikan Tanggapan Anda Untuk Tulisan Ini